STICKY RICE LIME MORTAR
Mortar Jeruk Nipis Beras Ketan
Mortar kapur beras ketan (atau mortar kapur ketan ) adalah jenis adukan bangunan komposit organik-anorganik kuno yang berasal dari Tiongkok sekitar 1.500 tahun yang lalu. Mortar ini dibuat dengan mencampurkan sup atau pasta beras ketan yang dimasak ke dalam mortar kapur standar.
Komposisi Utama
- Bahan Pengikat Anorganik: Kapur tohor ( jeruk nipis ), bahan utama dalam mortar tradisional.
- Bahan Pengikat Organik: Beras ketan ( beras ketan ), yang dimasak menjadi pasta atau sup kental.
- Agregat Halus (Opsional/Tergantung kebutuhan): Kadang-kadang ditambahkan pasir, meskipun resep dasarnya fokus pada kapur dan beras ketan.
Cara Kerja dan Keunggulan
Pati (amilopektin) dalam beras ketan bertindak sebagai bahan pengikat organik yang berfungsi sebagai aditif super dalam mortar kapur. Pati ini bereaksi dengan kalsium karbonat dalam kapur selama proses pengeringan, menciptakan mikrostruktur biomineralisasi yang terintegrasi antara membran organik dan butiran kalsit berukuran nano anorganik.
Keunggulan utama dari mortar ini meliputi :
- Kekuatan Rekat Tinggi: Mortar ini mengikat batu bata dengan sangat kuat, bahkan lebih kuat dan lebih tahan air dibandingkan mortar kapur biasa.
- Ketahanan Udara: menyediakan ketahanan yang lebih baik terhadap udara, menjadikannya ideal untuk struktur luar ruangan.
- Ketangguhan: Memberikan ketangguhan dan elastisitas yang lebih baik pada struktur, meningkatkan ketahanan terhadap erosi dan bahkan gempa bumi.
- Daya Tahan: Banyak bangunan kuno Tiongkok, termasuk bagian-bagian dari Tembok Besar Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M), tetap kokoh selama berabad-abad berkat penggunaan mortar ini.
Penggunaan Sejarah dan Modern
Secara historis, mortar ini merupakan penemuan penting dalam arsitektur Tiongkok kuno dan digunakan secara luas untuk membangun makam, pagoda, dan tembok kota. Kekuatannya yang legendaris membuat buldoser modern pun kesulitan menghancurkan beberapa bagian Tembok Besar yang menggunakan mortar ini.
Saat ini, para ilmuwan dan konservator modern mempelajari teknologi ini untuk aplikasi restorasi, terutama dalam memperbaiki konstruksi pasangan bata bersejarah, karena sifatnya yang kompatibel dan daya tahannya yang terbukti.
Mortar kapur beras ketan (sticky rice lime mortar) dibuat dari kapur terhidrasi, bubur beras ketan panas, dan agregat seperti debu genteng atau pasir. Campuran ini dibuat dengan cara mencampurkan kapur terhidrasi dan agregat, lalu menambahkan bubur beras ketan panas, dan mengaduknya hingga homogen. Hasilnya adalah mortar yang kuat dan tahan lama, seperti yang digunakan pada Tembok Besar China.
Bahan-bahan
- Kapur terhidrasi: Bahan pengikat utama.
- Bubur beras ketan panas: Beras ketan yang dimasak dan dihaluskan lalu dicampur air panas atau santan panas.
- Agregat:
- Debu genteng halus
- Pasir halus
- Air: Untuk membuat bubur beras ketan (jika perlu).
Cara membuat
- Siapkan bubur beras ketan: Masak beras ketan hingga matang, lalu campurkan dengan air mendidih hingga membentuk bubur kental.
- Siapkan campuran kapur: Campurkan kapur terhidrasi dengan agregat (debu genteng atau pasir) hingga merata.
- Gabungkan campuran: Tambahkan bubur beras ketan panas ke dalam campuran kapur sambil terus diaduk hingga semua bahan tercampur rata dan homogen.
- Tambahkan air (jika perlu): Sesuaikan konsistensi dengan menambahkan air secara perlahan jika campuran terlalu kental.
- Gunakan: Mortar ini siap digunakan setelah campuran homogen.
Plamir/Dempul Dinding Rumah
mortar kapur beras ketan (sticky rice lime mortar) bisa digunakan sebagai bahan plamir atau dempul dinding, terutama dalam konteks restorasi bangunan bersejarah atau bagi mereka yang mencari solusi bahan alami. Mortar jenis ini memiliki sifat adhesi (daya lekat) yang sangat baik dan tahan lama, bahkan lebih kuat dan lebih tahan air dibandingkan beberapa semen modern.
Berikut adalah beberapa pertimbangan penting:
- Kekuatan dan Daya Tahan: Mortar beras ketan terkenal karena kekuatannya yang luar biasa, terbukti dari penggunaannya di Tembok Besar China yang telah bertahan selama berabad-abad. Sifat plastisnya yang baik membuatnya mudah diaplikasikan dan dapat mengisi retakan dengan efektif.
- Sifat Bernapas (Breathability): Seperti mortar kapur pada umumnya, bahan ini memungkinkan dinding untuk "bernapas" (mengelola kelembapan alami), yang bermanfaat untuk kesehatan dinding, terutama pada bangunan tua yang mungkin memiliki masalah kelembapan.
- Aplikasi: Mortar kapur beras ketan dapat digunakan untuk mengaci (sejenis plamir/dempul) permukaan dinding setelah plesteran dasar untuk mendapatkan permukaan yang halus sebelum pengecatan.
- Kelemahan & Tantangan:
- Proses Pembuatan: Membutuhkan proses pembuatan yang spesifik (memasak beras ketan menjadi bubur, mencampurnya dengan kapur) yang mungkin lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan menggunakan plamir instan modern.
- Ketersediaan: Bahan plamir modern (campuran air, lem, kalsium karbonat/kalsium) lebih mudah didapat, praktis, dan umum digunakan dalam konstruksi saat ini.
- Kompatibilitas: Mortar kapur paling baik digunakan dengan bahan kapur lainnya. Jika dinding rumah Anda menggunakan plester semen Portland modern, mungkin ada masalah kompatibilitas (misalnya, perbedaan kekakuan atau cara mengelola uap air).
Kesimpulan:
Secara teknis dan historis, mortar kapur beras ketan adalah dempul yang sangat efektif. Namun, untuk aplikasi rumah tangga modern, plamir siap pakai komersial mungkin lebih praktis dan mudah digunakan kecuali jika Anda secara khusus ingin menggunakan metode tradisional atau sedang merestorasi bangunan bersejarah.
Penambahan Abu Tanaman Sebagai Bahan Agregat
Untuk dempul mortar kapur beras ketan dengan perbandingan 1:2 (kapur:agregat), abu tanaman (seperti abu sekam padi) adalah agregat yang lebih baik dibandingkan dengan abu gosok biasa.
Berikut penjelasannya:
- Abu Tanaman (Pozolan Alami): Abu tanaman tertentu, terutama abu sekam padi, mengandung kadar silika tinggi dan bersifat pozolanik. Artinya, bahan ini bereaksi secara kimia dengan kapur (kalsium hidroksida) dengan adanya air untuk membentuk senyawa pengikat yang lebih kuat dan tahan lama, mirip dengan semen. Karakteristik ini sangat diinginkan untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan ketahanan air pada mortar, menjadikannya ideal untuk aplikasi dempul yang membutuhkan kualitas tinggi.
- Abu Gosok (Bahan Inert): "Abu gosok" (yang umumnya merupakan bubuk abrasif untuk membersihkan, seringkali berbahan dasar mineral atau bahan inert lainnya) kemungkinan besar tidak memiliki sifat pozolanik ini. Sebagai agregat, ia hanya berfungsi sebagai bahan pengisi (inert), yang tidak memberikan kontribusi kimia untuk penguatan mortar. Fungsinya hanya sebatas memberikan volume dan tekstur.
Kesimpulan:
Penggunaan abu tanaman (yang memiliki sifat pozolanik) akan menghasilkan dempul mortar kapur beras ketan yang lebih kuat dan awet, karena terjadi reaksi kimia pengikatan tambahan selain pengikatan kapur itu sendiri. Abu gosok, sebaliknya, hanya akan berfungsi sebagai pengisi biasa tanpa manfaat penguatan kimiawi.
Penggunaan abu tanaman (yang memiliki sifat pozolanik) akan menghasilkan dempul mortar kapur beras ketan yang lebih kuat dan awet, karena terjadi reaksi kimia pengikatan tambahan selain pengikatan kapur itu sendiri. Abu gosok, sebaliknya, hanya akan berfungsi sebagai pengisi biasa tanpa manfaat penguatan kimiawi.
Takaran atau Dosis Bahan:
Takaran atau dosis bahan untuk pembuatan mortar kapur beras ketan (sticky rice lime mortar) bervariasi tergantung pada aplikasi dan kekuatan yang diinginkan, karena bahan ini merupakan resep kuno yang telah disesuaikan di berbagai daerah. Studi ilmiah modern sering bereksperimen dengan berbagai proporsi untuk mengoptimalkan kinerja.
Secara umum, bahan utamanya adalah:
- Kapur (hidrasi atau kapur padam)
- Agregat halus (pasir)
- Beras ketan
- Air
Proporsi Umum
Meskipun rasio yang tepat dapat sangat spesifik untuk proyek tertentu, rasio volume tradisional yang sering digunakan untuk mortar kapur murni (tanpa ketan) berkisar antara 1 bagian kapur hingga 3 atau 4 bagian pasir (1:3 atau 1:4).
Ketika beras ketan ditambahkan, biasanya dalam bentuk bubur atau ekstrak, dosisnya relatif kecil dan berfungsi sebagai bahan tambahan (aditif) untuk meningkatkan daya rekat dan kekuatan:
- Rasio Kapur dan Beras Ketan: Beras ketan biasanya ditambahkan dalam persentase kecil dari total campuran kapur dan pasir. Beberapa penelitian menunjukkan variasi penggunaan pati beras ketan sekitar 2% hingga 10% dari total berat bahan pengikat (kapur).
- Proporsi Khas (Estimasi): Satu takaran yang mungkin adalah 1 bagian bubur beras ketan dicampur dengan 5 bagian kapur padam dan 16 bagian pasir (berdasarkan berat atau volume).
Catatan Penting
- Persiapan Beras Ketan: Beras ketan dimasak menjadi bubur kental terlebih dahulu, lalu dicampurkan ke dalam adukan kapur dan pasir.
- Fungsi: Pati dari beras ketan bertindak sebagai agen pengikat organik alami yang memberikan kekuatan tambahan dan ketahanan air pada mortar kapur yang mengeras melalui proses karbonasi.
- Variabilitas: Karena ini adalah metode kuno dan tradisional, "resep" yang tepat mungkin berbeda-beda, dan pengujian diperlukan untuk menentukan campuran optimal untuk bahan lokal yang tersedia dan tujuan konstruksi spesifik.
Ca(OH)2 (Kalsium Hidroksida) Berasal dari Kapur Tohor
Sebagai Bahan Aktif
Mengganti kapur padam (kalsium hidroksida,
) dengan kalsium karbonat (
) dalam pembuatan mortar kapur beras ketan akan menyebabkan mortar tidak dapat mengeras (mengikat) dengan baik dan tidak berfungsi sebagai bahan pengikat (semen) yang efektif.
Berikut penjelasannya:
Perbedaan Peran Kimia
- Kapur Padam () adalah bahan aktif utama dalam mortar kapur tradisional. Ia mengeras melalui proses yang disebut karbonasi, di mana ia bereaksi perlahan dengan karbon dioksida () dari udara untuk kembali membentuk kalsium karbonat yang keras dan stabil, yang memberikan kekuatan pada mortar:
- Kalsium Karbonat () sudah dalam bentuk akhir dari proses pengerasan tersebut. Ini adalah bahan yang relatif inert (tidak reaktif) pada suhu dan kondisi normal.
Konsekuensi Penggantian
- Tidak Ada Proses Pengerasan: tidak akan bereaksi dengandi udara atau dengan air dalam campuran mortar untuk membentuk matriks pengikat yang kuat. Mortar hanya akan menjadi campuran pasta beras ketan dan bubuk batu kapur yang tidak akan mengikat atau mengeras seperti yang diharapkan.
- Kekuatan yang Sangat Rendah: Mortar tidak akan memiliki kekuatan tekan atau daya rekat yang memadai untuk aplikasi struktural atau bahkan non-struktural. Fungsi pengikatan yang seharusnya berasal dari proses kimia kapur padam tidak akan terjadi.
- Fungsi Berbeda: biasanya digunakan sebagai bahan tambahan (filler) dalam beberapa aplikasi beton atau semen, tetapi bukan sebagai bahan pengikat utama karena sifatnya yang stabil secara kimiawi.
Kesimpulannya, penggantian ini akan membuat mortar kapur beras ketan kehilangan sifat pengikatnya yang esensial. Bahan dasar yang diperlukan untuk reaksi kimia pengerasan mortar kapur adalah kapur padam (
), yang berasal dari pembakaran batu kapur (
) menjadi kapur tohor (
) dan kemudian dimatikan dengan air.
Modifikasi mortar kapur beras ketan
Memodifikasi mortar kapur beras ketan dengan proses esterifikasi secara langsung tidak praktis dan berisiko terhadap integritas struktural bahan bangunan. Proses esterifikasi adalah reaksi kimia untuk menghasilkan ester, yang sering kali memiliki aroma harum. Namun, penerapan proses kimia semacam itu ke dalam campuran bahan bangunan dapat berdampak negatif yang signifikan.
Berikut adalah beberapa pertimbangan mengenai modifikasi ini:
Dampak Potensial Proses Esterifikasi pada Mortar
- Gangguan Proses Pengerasan: Pengerasan mortar (baik yang berbasis kapur atau semen) melibatkan proses kimia yang kompleks, terutama hidrasi dan karbonasi. Menambahkan bahan kimia atau mengubah lingkungan kimia (misalnya, dengan menciptakan alkohol atau asam sebagai produk sampingan esterifikasi) dapat mengganggu reaksi-reaksi ini, yang menyebabkan waktu pengikatan yang tidak dapat diprediksi atau bahkan kegagalan total dalam pengerasan.
- Perubahan Sifat Fisik dan Mekanik: Mortar tradisional beras ketan terkenal karena daya rekat dan daya tahannya yang unik, sebagian berkat kandungan amilopektin yang tinggi pada ketan. Mengubah komposisi kimia melalui esterifikasi kemungkinan besar akan mengubah sifat-sifat penting ini, berpotensi menurunkan kuat tekan, kuat lekat, dan daya tahan keseluruhan.
- Ketidakstabilan Aroma: Ester yang menghasilkan aroma wangi cenderung volatil (mudah menguap) atau dapat terurai seiring waktu, terutama saat terpapar kondisi lingkungan seperti kelembapan, suhu, dan pH tinggi yang umum dalam mortar. Aromanya mungkin hanya bertahan sebentar.
- Risiko Keamanan dan Kesehatan: Bahan kimia yang terlibat dalam esterifikasi (alkohol, asam karboksilat, katalisator) mungkin beracun atau berbahaya untuk digunakan dalam aplikasi konstruksi tanpa pengujian keamanan yang ketat. Selain itu, produk sampingan yang dihasilkan mungkin menimbulkan risiko kesehatan.
- Kompleksitas dan Biaya: Esterifikasi adalah proses kimia industri yang membutuhkan kondisi terkontrol (suhu, tekanan, katalis). Menerapkannya dalam skala besar di lokasi konstruksi sangat tidak praktis dan mahal.
Alternatif yang Lebih Praktis
Jika tujuan utamanya adalah membuat mortar memiliki aroma wangi, metode yang lebih modern dan aman adalah dengan menggunakan aditif yang dirancang khusus untuk bahan bangunan, seperti:
- Penambahan Minyak Atsiri atau Pewangi Kapsul: Penggunaan minyak atsiri sintetis atau alami dalam jumlah kecil, atau pewangi yang dikemas dalam kapsul mikro yang dilepaskan secara perlahan, mungkin bisa memberikan aroma yang diinginkan tanpa mengganggu kimiawi pengerasan mortar. Metode ini mirip dengan penggunaan pigmen untuk menambah warna pada mortar.
- Penggunaan Ekstrak Tanaman Aromatik: Menambahkan bahan alami seperti bubuk daun pandan kering atau rempah-rempah tertentu yang telah teruji kompatibilitasnya dengan campuran kapur dapat dicoba. Beberapa bahan organik seperti putih telur telah digunakan dalam mortar kapur tradisional untuk tujuan penguat, menunjukkan adanya preseden penggunaan bahan alami tertentu.
Untuk menjaga fungsi struktural mortar, modifikasi aroma harus dilakukan dengan sangat hati-hati, idealnya melalui konsultasi dengan insinyur bahan atau ahli kimia bahan bangunan.
Penambahan Lem Fox
Secara teknis, lem Fox (yang berbahan dasar Polyvinyl Acetate atau PVAc) bisa dicampurkan ke dalam mortar kapur (termasuk yang menggunakan bahan tambahan beras ketan), dan campuran semacam itu umum digunakan sebagai plamir tembok.
Namun, penting untuk memahami konteks dan konsekuensinya:
- Fungsi dan Kegunaan: Lem Fox PVAc sering ditambahkan ke dalam campuran kapur atau semen untuk meningkatkan daya rekat dan fleksibilitas, terutama pada aplikasi non-struktural seperti plamir (pelapis dinding tipis sebelum pengecatan).
- Kompatibilitas: PVAc umumnya kompatibel dengan bahan dasar semen dan kapur dalam proporsi yang tepat untuk aplikasi tertentu. Bahkan, bahan tambahan beras ketan pada mortar tradisional sendiri berfungsi mirip dengan polimer alami, yaitu sebagai agen pengikat tambahan untuk meningkatkan plastisitas dan kekuatan.
- Potensi Masalah:
- Proporsi: Mencampurkan terlalu banyak lem dapat mengubah sifat mortar secara drastis, mungkin membuatnya terlalu elastis, sulit mengeras dengan benar, atau mengurangi permeabilitas uap (kemampuan dinding untuk "bernapas") yang penting untuk bangunan tua atau restorasi.
- Durabilitas Jangka Panjang: Meskipun PVAc meningkatkan daya rekat, interaksinya dalam jangka panjang dengan lingkungan basa dari kapur dan paparan kondisi luar ruangan (kelembapan, suhu) dalam aplikasi struktural mungkin belum teruji sebaik formulasi polimer khusus untuk mortar modern.
- Gelembung Udara: Studi menunjukkan bahwa penambahan PVAc dapat menyebabkan gelembung udara terperangkap dalam campuran, yang dapat mempengaruhi kepadatan dan kekuatan akhir jika tidak dipadatkan dengan benar.
Kesimpulan:
Anda bisa mencampurkan lem Fox ke dalam mortar kapur beras ketan jika tujuannya untuk aplikasi plamir atau pekerjaan finishing ringan di mana daya rekat ekstra diinginkan. Namun, tidak disarankan untuk penggunaan struktural (seperti pasangan bata atau plesteran tebal penahan beban) karena sifat fisik dan kimia jangka panjang dari kombinasi bahan tradisional dengan polimer sintetik tersebut belum sepenuhnya standar untuk tujuan konstruksi berat.
"Teknologi konstruksi, tidak mengenal malu"
"Teknologi konstruksi, tidak mengenal malu" bukanlah istilah teknis atau frasa populer yang dikenal luas, melainkan sebuah kiasan atau sindiran yang Anda buat sendiri untuk menggambarkan sesuatu yang berlawanan dengan kualitas dan integritas.
Analogi Anda dengan slogan Rinso ("teknologi cuci bersih, tidak mengenal kotor") menunjukkan adanya kontras antara klaim kualitas tinggi dengan realitas yang memalukan atau buruk dalam konteksi konstruksi.
Dalam bahasa sehari-hari atau di media sosial, konstruksi dengan kualitas rendah yang memalukan sering disebut dengan istilah sindiran seperti:
- "Proyek abal-abal"
- "Konstruksi tipu-tipu"
- "Bangunan kaleng-kaleng"
- "Proyek mangkrak" (jika tidak selesai)
- "Konstruksi tahan banting" (secara sarkas, artinya mudah rusak)
Istilah-istilah ini digunakan untuk menyoroti hasil pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi standar keamanan, estetika, atau fungsi yang dijanjikan, sehingga menimbulkan rasa "malu" bagi pelaksana atau pihak terkait.
Proses Pencampuran Bahan
Menggunakan kapur tohor (kalsium oksida, CaO) untuk dempul dinding yang dicampur dengan bubur ketan adalah metode tradisional yang dikenal dalam arsitektur vernakular Asia Tenggara (seperti angkla di Indonesia atau dinding tanah liat di Thailand/Myanmar), di mana bubur ketan bertindak sebagai bahan pengikat organik (binder). [1]
Berikut adalah panduan langkah demi langkah tentang cara mempersiapkan bahan dempul Anda, serta penjelasan mengenai proses kimia yang terjadi.
Proses Mencampur CaO dengan H2O (Proses "Memadamkan Kapur")
Tujuan langkah pertama adalah mengubah kapur tohor (CaO) yang sangat reaktif menjadi kalsium hidroksida (Ca(OH)₂), yang merupakan bahan kapur yang aman dan stabil untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Proses ini disebut "memadamkan" atau slaking kapur.
Peringatan Penting: Reaksi ini melepaskan panas yang signifikan dan uap. Kapur tohor (CaO) bersifat kaustik dan dapat menyebabkan luka bakar kimiawi pada kulit dan mata.
Alat dan Bahan:
- Kapur tohor (CaO)
- Air bersih (H₂O)
- Ember logam atau plastik tahan panas (jangan gunakan wadah kaca)
- Pengaduk kayu atau logam yang panjang
- Alat pelindung diri (APD) yang wajib: Sarung tangan karet tebal, kacamata pengaman, masker debu, dan pakaian lengan panjang.
Langkah-langkah:
- Siapkan Area Kerja: Lakukan proses ini di luar ruangan atau di area yang berventilasi sangat baik.
- Tambahkan Air: Masukkan jumlah air yang diperlukan ke dalam ember (perbandingan umum adalah sekitar 3-4 liter air untuk setiap 1 kg kapur CaO).
- Tambahkan CaO Perlahan: Secara bertahap tambahkan kapur tohor (CaO) ke dalam air (jangan sebaliknya).
- Aduk dan Amati: Aduk perlahan. Air akan segera mulai mendidih hebat, mengeluarkan uap panas, dan adonan akan mengental. Ini adalah reaksi eksotermik (melepaskan panas).
- Diamkan (Slaking): Biarkan reaksi berlangsung sampai mendidih berhenti sepenuhnya dan campuran menjadi pasta kental berwarna putih. Ini bisa memakan waktu 30 menit hingga beberapa jam tergantung kualitas CaO.
- Penyimpanan (Opsional tapi Disarankan): Untuk kualitas dempul terbaik, tutup pasta kapur yang sudah jadi dengan air bersih di atasnya (agar tidak mengering) dan diamkan selama minimal 24 jam, atau bahkan berminggu-minggu. Proses penuaan ini menghasilkan pasta kapur yang lebih halus dan plastis. [2]
Hasil Langkah 1: Anda sekarang memiliki kalsium hidroksida (Ca(OH)₂) PASTA KAPUR.
Mencampur Pasta Kapur dengan Bubur Ketan
Setelah Anda memiliki pasta kapur (Ca(OH)₂), Anda dapat mencampurkannya dengan bubur ketan untuk membuat bahan dempul.
- Siapkan Bubur Ketan: Masak beras ketan hingga menjadi bubur yang sangat kental dan lengket, lalu biarkan dingin.
- Campurkan: Campurkan pasta kapur (Ca(OH)₂) yang sudah dingin dengan bubur ketan. Rasio campuran bervariasi tergantung kekentalan yang diinginkan, tetapi biasanya dimulai dengan rasio 3 bagian pasta kapur untuk 1 bagian bubur ketan (berdasarkan volume), lalu disesuaikan. [1]
- Aduk Rata: Aduk hingga homogen. Dempul siap digunakan.
Proses Pembentukan CaCO₃ (Karbonasi)
Pertanyaan utama Anda adalah tentang pembentukan Kalsium Karbonat (CaCO₃). Proses ini terjadi secara alami setelah dempul diaplikasikan ke dinding dan mengering, bukan saat pencampuran awal.
Berikut adalah reaksi kimianya:
- Langkah Pencampuran: (Kalsium Hidroksida/Pasta Kapur)
- Langkah Pengeringan (Di Dinding): (Kalsium Karbonat/Bahan Dempul Keras)
Saat dempul Ca(OH)₂ Anda terpapar udara, ia bereaksi perlahan dengan karbon dioksida (
) di atmosfer untuk kembali menjadi kalsium karbonat (
), yaitu bahan yang sama dengan batu kapur alami, yang keras dan tahan lama.
Apakah Perlu Menambahkan Kalium Karbonat (
)?
Tidak, Anda tidak perlu menambahkan kalium karbonat.
Tujuan Anda adalah menggunakan metode kapur tradisional. Karbon dioksida alami di udara sudah cukup untuk menggerakkan reaksi pembentukan
saat dempul mengering. Penambahan bahan kimia tambahan seperti kalium karbonat tidak diperlukan untuk proses karbonasi kapur standar dan dapat mengganggu formulasi tradisional dempul Anda.
Bubur ketan berfungsi untuk meningkatkan daya rekat dan fleksibilitas dempul saat diaplikasikan. [1]
Singkatnya:
- Ubah CaO menjadi Ca(OH)₂ (pasta kapur) dengan air.
- Campurkan pasta Ca(OH)₂ dengan bubur ketan.
- Oleskan ke dinding.
- Biarkan udara yang bekerja mengubah Ca(OH)₂ menjadi CaCO₃.
Perlukah Menambahkan Kalium Karbonat atau Asam Karbonat?
Tidak perlu. Menambahkan kalium karbonat (
) atau asam karbonat (
) tidak diperlukan, dan bahkan mungkin merusak formulasi tradisional tersebut.
Proses pengerasan dempul kapur terjadi secara alami melalui karbonasi saat terpapar udara.
- Proses Karbonasi: Kalsium hidroksida () yang diaplikasikan ke dinding akan bereaksi perlahan dengan karbon dioksida () di udara, mengubahnya kembali menjadi kalsium karbonat (), yaitu bahan utama batu kapur atau marmer.
Reaksi Pengerasan:
Jadi,
terbentuk sendiri seiring waktu saat dempul mengering dan bereaksi dengan udara.
Ringkasan
Anda sudah memiliki semua bahan yang diperlukan:
- Ubah menjadi pastadengan air.
- Campurkan pasta yang sudah dingin dan bubur ketan.
- Oleskan ke dinding. Dempul akan mengeras menjadi \text{CaCO}_3} secara alami dengan bantuan udara.
Comments
Post a Comment