Formula Ganda 100, Larutan Minuman Susu Full Cream Untuk Anak Balita Usia ≥ 2 Tahun
Ciptakan Formula Gizimu sendiri:
Formula Ganda 100, Larutan Minuman Susu Full Cream Untuk Anak Balita Usia ≥ 2 Tahun
Formula-100 merupakan susu formula yang dibuat secara khusus untuk balita (kurang dari 5 tahun) dengan status gizi buruk . F-100 mengandung protein tinggi, karbohidrat, juga lemak. F-100 berfungsi untuk stabilisasi dan transisi rehabilitasi resomal terhadap dehidrasi pada anak. Makanan Formula Formal-100 diberikan pada anak gizi buruk hanya pada tahap transisi (mempersiapkan anak untuk menerima cairan dan energi lebih besar).
Pada anak, bisa dikatakan mengalami gizi buruk ketika hasil pengukuran indikator BB/TB untuk status gizinya kurang dari 70 persen nilai median . Mudahnya, nilai cut off z score berada nilai pada kurang dari -3 SD. Gizi buruk paling sering dialami oleh anak balita ketika tubuhnya kekurangan energi protein (KEP) kronis. Gejala atau ciri-ciri anak gizi buruk adalah:
- Berat badan dan tinggi badan anak di bawah rata-rata normal anak seumurannya.
- Anak mudah lelah dan terlihat lesu, tidak bergairah dalam bermain.
- Sering rewel.
- Tidak nafsu makan.
- Pertumbuhan anak terlambat.
- Kulit dan rambut tampak kering.
- Rambut rontok.
- Mata dan pipi tampak cekung.
Anak yang mengalami gizi buruk akan berdampak pada terhambatnya pertumbuhan anak: Kekurangan gizi dapat menghentikan pertumbuhan. Kerusakan organ permanen : Kekurangan nutrisi
Penanganan dengan terapi diet diberikan secara bertahap mulai dari makanan cair, makanan lumat, makanan lembek, dan makanan biasa. Pada minggu pertama.
- Memberikan makanan bergizi lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan anak.
- Menerapkan pola asuh yang baik.
- Memberikan ASI eksklusif hingga usia anak 6 bulan, dilanjutkan dengan memberikan MPASI yang bergizi lengkap dan seimbang.
Formula 100 berisikan campuran nutrisi bergizi lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan anak.
Cara Membuat Formula-100
Bahan-bahan Aktif:
- Susu Full Cream, 57,5 gr
Susu merupakan makanan lezat yang menyehatkan, karena kandungan nutrisinya lengkap dan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia.
- Nutribaby Royal 1 Formula Bayi Bubuk 400 g.
- Enfamil A+ 1 400 g.
- Pediasure Tripelsure Vanila 400 g.
- Enfagrow A+ 3 Vanilla 800 g.
- Nutrilon Royal 3 Vanila Susu Bubuk 400 gr.
- S-26 Promil Gold 1 400 gr.
- Chil Kid Platinum Vanila 400 gr.
- Bebelac 3 Vanila Susu Bubuk 400 gr.
Biasanya, saat anak berusia bayi membutuhkan 150—200 ml susu formula per kilogram berat badannya dalam sehari.
Susu full cream adalah produk susu yang masih mempertahankan kandungan lemak di dalamnya . Susu . Berkat kandungan nutrisinya, minuman ini bermanfaat meningkatkan fungsi otak hingga menjaga kesehatan jantung. Kandungan Karbohidrat: Berguna sebagai sumber energi. Lemak: Berguna sebagai pelindung organ penting tubuh. Vitamin A: Berguna untuk mendukung kesehatan mata. Vitamin D3: Berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang serta gigi. kandungan Protein pada susu full cream dapat menambah massa otot tubuh, zat gizi berupa protein ini juga baik untuk masa pertumbuhan dan memelihara sel-sel dalam tubuh. Susu full cream baik untuk otak terutama pada anak, berkat kandungan vitamin B, Vitamin ini meningkatkan fungsi otak dan menjaga siklus tidur tetap baik.
Bahan aktif berikutnya adalah:
- Gula pasir 20 gr
- Minyak (minyak sayur), 3,6 gr
- Air hangat, 400 ml.
Bahan bahan Tambahan:
- Campuran Mineral, 8 ml
Campuran mineral merupakan salah satu bahan atau suplemen yang direkomendasikan oleh pemerintah untuk diberikan kepada balita gizi buruk. Kandungan Mineral Mix terdiri dari kalium klorida, tripotasium sitrat, magnesium klorida, seng asetat, dan tembaga sulfat.
Mineral mix digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat Rehydration Solution for Malnutrition (ReSoMal), dan ini Formula WHO . ReSoMal adalah cairan yang diberikan kepada anak penderita gizi buruk yang mengalami diare dan/atau dehidrasi.
Bahan bahan pelengkap lainnya, Ad 100% :
- Pemanis':
- Pengikat:
- Pengisi : pengental dan emulsifier.
Pengemulsi (emulsifier) seperti Kuning Telur merupakan bahan tambahan pangan untuk membantu terbentuknya campuran yang homogen dari dua atau lebih fase yang tidak tercampur seperti minyak dan udara . E. Pengemulsi bekerja dengan menstabilkan campuran dua cairan yang cenderung terpisah . Secara umum, pengemulsi memiliki sifat yang menyukai minyak (lipofilik) dan menyukai udara (hidrofilik). Sifat inilah yang memungkinkan bahan-bahan ini bercampur.
Pada makanan, emulsifier berperan sebagai bahan tambahan untuk menjaga konsistensi dan bentuk makanan serta sebagai pengembang. Emulsifier makanan pada umumnya berbentuk semisolid yang mengandung asam lemak seperti asam stearat, palmitat dan oleat serta mono dan digliserida.
Kuning Telur adalah salah satu contoh pengemulsi yang terbuat dari bahan alami yang digunakan sebagai bahan pembuatan makanan. Kuning telur merupakan emulsifier yang sangat kuat yang memiliki sejenis bahan dengan tingkat kesukaan terhadap air dan minyak sekaligus. Komponen pengelmulsi pada kuning telur adalah fosfolipid, lipoprotein dan protein.
Selain kuning telur, ada juga pengemulsi buatan (sintetis), contohnya adalah karboksimetilselulosa (CMC) dan polisorbat 80 (P80) .
Sumber pengemulsi bisa dari bahan nabati atau hewani, pengemulsi nabati merupakan BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang berfungsi untuk menyatukan dua atau lebih fase yang tidak tercampur, seperti fase air dan fase Pengemulsi dari bahan nabati s eperti lesitin (kedelai), karagenan, agar-agar, pati, hingga pektin, sedangkan pengemulsi dari bahan hewani seperti gelatin.
Sumber pengemulsi lainnya dapat berasal dari fosfatida. Pengelmusi buatan untuk cake emulsifier yang cukup terkenal diantaranya SP, Quick 75, TBM, Starkies, dan Ovalet .
Bahan Pengental, contoh zat pengental adalah tepung tapioka, tepung maizena, tepung terigu, keragenan, agar-agar, agar-agar. Pengemulsi bertujuan untuk mempertahankan penyebaran lemak di dalam air agar tidak pecah. Contoh pengemulsi adalah lesitin yang terdapat pada makanan seperti mayonaise dan mentega.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, bahwa bahaya dari makanan yang mengandung emulsifier dengan konsentrasi berlebih dapat menimbulkan risiko meningkatnya jumlah bakteri jahat di usus
Bahan berupa Zat aditif lain yang digunakan:
- Pengawet.
- MSG atau monosodium glutamat.
- Sirop jagung tinggi fruktosa.
- Pemanis buatan.
- Natrium nitrat.
- Gula.
- Garam.
Putih telur
Kandungan gizi dari putih telur setiap 100 gram, yaitu udara 87,8 gram, karbohidrat 1 gram, protein 10,8 gram, vitamin B2 0,23 mg, asam niasin 0,8 mg, asam pantosinik 3 mg, kalsium, 6 mg, potasium 100 mg, besi 0,2 mg, fosfor
Putih telur juga mengandung
Telur burung puyuh
Dalam 1 butir telur ayam kandungan proteinnya sekitar 6.29 g, sementara pada 1 porsi (5 butir) telur puyuh kandungan proteinnya 5.85 g.
Asam lemak
Lemak tak jenuh adalah
Lemak tak jenuh tunggal disebut juga dengan MUFA (monounsaturated fats) merupakan lemak yang hanya memiliki satu ikatan rangkap . Lemak ini dikenal sebagai lemak baik. Beberapa asam lemak yang termasuk dalam jenis lemak tak jenuh tunggal antara lain asam palmitoleat, asam oleat, asam vaksinasi.
Asam lemak tak jenuh ganda atau Polyunsaturated Fatty Acids (PUFAs) merupakan kelompok asam lemak
Asam oleat atau asam cis-9-oktadekanoat merupakan
Asam lemak Omega 9 adalah asam lemak yang memiliki posisi ikatan rangkap dua yang pertama terletak pada C ke-9 dari ujung gugus metil-nya. Contoh Omega 9 yaitu Asam Oleat. Manfaat Omega 9 untuk membantu meringankan gejala penyakit Alzheimer.
Manfaat omega-9 telah terbukti mampu menjaga suasana hati . Hal ini disebutkan dalam penelitian pada jurnal Academy of Nutrition and Dietetics (2021). Kandungan asam oleat membantu mengikat senyawa otak serotonin. Kekurangan serotonin membuat Anda rentan mengalami depresi. asam lemak
Omega 3 dan omega 6 merupakan asam lemak esensial yang memiliki peranan penting bagi tubuh
Asam lemak Omega 6 adalah asam lemak yang memiliki posisi ikatan rangkap dua yang pertama terletak pada C ke-6 dari ujung gugus metil-nya. Contoh Omega 6 yaitu Asam Linoleat. Manfaat Omega 6 untuk mengurangi risiko penyakit jantung.
Asam lemak Omega 3 adalah asam lemak yang memiliki posisi ikatan rangkap dua yang pertama terletak pada C ke-3 dari ujung gugus metil-nya. Contoh Omega 3 yaitu Asam Alfa-linolenat. Manfaat Omega 3 untuk membantu mendorong perkembangan otak bayi..
Gliserol atau gliserin memiliki beberapa manfaat dalam kesehatan. Namun, obat ini paling sering ditemukan sebagai laksatif atau pelancar buang air besar pada sembelit (konstipasi) . Manfaat g liserol
Persamaan reaksi kimia:
1a. Persenyawaan/Campuran antara Gliserol dan Omega-3
Mari kita uraikan dengan hati-hati, karena ada perbedaan penting antara
1. Jika hanya dicampur biasa
- Gliserol (C₃H₈O₃)
- Omega-3 (ALA, C18:3; DHA, EPA, dll)
- Kalau keduanya dicampur langsung →
- Jadi tidak ada "produk baru" → hanya minyak dan gliserol yang berdampingan.
- Inilah yang terjadi jika misalnya menambahkan minyak ikan/ALA ke larutan formula 100 lalu juga menambahkan gliserol → tetap ada minyak dan tetap ada gliserol, tidak menjadi senyawa tunggal.
2. Jika ada
- Gliserol
- Omega-3 (misalnya ALA, DHA, EPA)
- Jika direaksikan → bisa terjadi esterifikasi → terbentuk
Contoh umum:
\text{Gliserol} + 3 \times \text{ALA (C18:3)} \;\;\longrightarrow\;\; \text{Trilinolenin (C57H92O6)} + 3 H₂O
- Nama produknya: trigliserida Omega-3 (misalnya
- Inilah bentuk alami lemak di dalam biji chia, flaxseed, minyak ikan, dll → Omega-3 biasanya memang tersimpan dalam bentuk
3. Jadi ringkasnya:
- Campuran biasa
- Reaksi kimia (esterifikasi) : terbentuknya trigliserida Omega-3 , yaitu bentuk alami lemak yang memang kita makan sehari-hari.
👉 Jadi, dalam konteks Formula 100 yang hanya berupa larutan/minuman → jika ditambahkan gliserol + minyak sumber Omega-3 , maka hasilnya hanya campuran (tidak otomatis jadi trigliserida baru), kecuali diproses industri (pakai enzim lipase atau panas-katalis).
1b. Persenyawaan/Campuran antara Gliserol, Omega-3, dan Emulsifier (kuning telur)
Jika ditambahkan emulsifier seperti lesitin dari kuning telur ke dalam campuran gliserol + Omega-3 , maka fenomena yang terjadi berbeda
🔬 1. Peran emulsifier (misalnya lesitin kuning telur)
- Lesitin adalah fosfolipid
- kepala fosfat
- ekor asam lemak (non-polar, suka minyak → hidrofobik)
- Sifat ini membuat lesitin mampu menjembatani
🔬 2. Apa yang terjadi dalam campuran
- Tanpa lesitin → minyak (Omega-3) mengambang/terpisah, gliserol bercampur dengan udara.
- Dengan lesitin → terbentuk emulsi
- Minyak/Omega-3 akan terperangkap dalam tetesan kecil
- Lesitin menyelubungi droplet ini (kepala hidrofilik keluar → larut dalam air, ekor hidrofobik menempel pada minyak).
- Hasil akhirnya: campuran jadi stabil , tidak cepat terpisah antara minyak dan udara.
🔬 3. Hasil praktis
- Bukan senyawa kimia baru → tetap Omega-3 + gliserol + udara , tapi sekarang dalam bentuk emulsi homogen
- Tekstur: lebih halus, tidak ada lapisan minyak mengambang.
- Bioavailabilitas: kadang-kadang bisa lebih baik diserap usus, karena emulsi meniru kerja encer.
🔬 4. Contoh nyata
- Mayones
- Suplemen emulsi omega-3 di farmasi juga menggunakan prinsip ini.
✨ Kesimpulan
Jika pada Formula 100 ditambahkan gliserol + minyak Omega-3 lalu diberi emulsifier (kuning telur/lesitin) :
- Hasil: emulsi homogen
- Bukan senyawa terbentuk baru , hanya perubahan fisik menjadi fase emulsi .
Tabel Perbandingan Formula 100 + Bahan Tambahan
Berikut ini skema tabel praktis
📊 Skema Tabel Perbandingan Formula 100 + Bahan Tambahan (Gliserol, Omega-3, Kuning telur)
| Kombinasi | Komposisi | Sifat Fisik (larutan) | Stabilitas Campuran | Catatan Bioavailabilitas |
|---|---|---|---|---|
| (1) Standar Formula 100 | Susu full cream + gula + minyak sayur + mineral mix | Homogen (sudah diformulasikan medis) | Stabil (sudah diuji) | Diserap baik sesuai standar WHO/UNICEF |
| (2) Formula 100 + Omega-3 | Formula 100 + minyak kaya ALA/DHA (minyak biji rami, minyak ikan, dll) | Minyak cenderung floating | Kurang stabil (butuh dikocok sebelum minum) | Omega-3 bisa diserap, tapi penyerapannya lebih baik bila ada emulsifikasi alami (empedu) |
| (3) Formula 100 + Omega-3 + Gliserol | Formula 100 + minyak kaya Omega-3 + gliserol | Minyak tetap terpisah, gliserol larut dalam fase udara | Tidak stabil (masih terpisah fase) | Gliserol cepat diserap (sebagai energi tambahan), Omega-3 tetap membutuhkan emulsifikasi oleh tubuh |
| (4) Formula 100 + Omega-3 + Gliserol + Emulsifier (lesitin kuning telur) | Formula 100 + minyak Omega-3 + gliserol + kuning telur (lesitin) | Emulsi homogen | Stabil (tidak cepat terpisah, seperti mayones) | Penyerapan Omega-3 meningkat (karena sudah dalam bentuk emulsi), lebih nyaman dikonsumsi |
✨ Inti yang terlihat dari tabel:
- Tanpa pengemulsi → minyak (Omega-3) tetap terpisah.
- Gliserol tidak bisa menyatukan minyak & udara, hanya memberi kalori tambahan.
- Dengan emulsifier (lesitin) → campuran jadi emulsi stabil
- Secara klinis, inilah mengapa suplemen Omega-3 cair untuk anak sering ditambahkan emulsifier (misalnya lesitin atau mono-/digliserida).
Takaran Dosis Bahan Gliserol, Omega-3, Kuning telur pada 400 ml Formula-100
Berikut contoh perhitungan praktis lengkap + proses pencampuran dan catatan keselamatan untuk 1 adukan = 400 ml Formula‑100 standar. Saya menyediakan dua opsi praktis (praktis & seimbang; fokus pada vegetarian) sehingga Anda dapat memilih dan berdiskusi dengan dokter/gizi.
Penting: semua yang di bawah ini adalah ilustrasi praktis dan bukan resep medis . Setiap perubahan pada Formula‑100 sebaiknya disetujui & dokter gizi/pediater.
Asumsi umum yang dipakai
- 1 adukan = 400 ml
- Energi dasar adukan (resep Anda) = 395 kkal / 400 ml
- Energi: minyak ≈ 9 kkal/g ; gliserol ≈ 4 kkal/g
- Komposisi minyak (perkiraan per 1 g minyak):
- Kanola : LA ≈ 0,20 gram, ALA ≈ 0,09 gram.
- Biji rami : LA ≈ 0,14 g, ALA ≈ 0,53 g.
- Minyak ikan (per 1 g) ≈ ~180 mg EPA + 120 mg DHA (contoh produk umum).
- Satu kuning telur segar ≈ 17 g, kandungan lesitin kira‑kira ~1,4–1,8 g (perkiraan); pakai kuning telur pasteurisasi
- Osmolalitas kontribusi dari gliserol (contoh): 0.5 g gliserol ≈ +13.6 mOsm/L pada 400 ml (lihat catatan).
Opsi 1 — Praktis & seimbang ( direkomendasikan praktik; mudah didapat)
Bahan tambahan untuk 400 ml:
- Minyak canola : 5 g (≈1 sendok teh)
- Minyak ikan (diformulasikan untuk anak-anak) : 1 g (1 kapsul/1 mL, tergantung produk) — Opsional bila ingin DHA langsung
- Gliserol : 0,5 g (konservatif; opsional)
- Kuning telur (dipasteurisasi) atau lecithin food‑grade: 1 kuning (~17 g) atau setara ~1.5 g lecithin
Perhitungan nutrisi & parameter:
- Tambahan energi dari canola 5 g = 45 kkal
- Tambahan energi dari minyak ikan 1 g = 9 kkal
- Tambahan energi dari gliserol 0,5 g = 2 kkal
- Total tambahan energi = 56 kkal
- Total energi adukan ≈ 395 + 56 = 451 kkal / 400 ml → ≈112,8 kkal / 100 ml
- Tambahan ALA dari 5 g canola ≈ 0.45 g ; tambahan LA ≈ 1.0 g → rasio ω6:ω3 tambahan ≈ ~2.2 : 1 (bagus)
- Tambahan DHA dari minyak ikan ≈ ~120 mg DHA + 180 mg EPA per adukan (cek label)
- Kontribusi osmolalitas dari gliserol 0.5 g ≈ +13.6 mOsm/L (perkiraan; kecil)
Hasil & catatan:
- Emulsifier dari kuning telur (lesitin) membantu membentuk emulsi stabil sehingga minyak & minyak ikan tidak mengapung dan penyerapan lemak jadi lebih baik.
- Energi naik sedang (aman), rasio ω6:ω3 membaik, dan Anda mendapat DHA langsung dari minyak ikan.
- Gunakan kuning telur pasteurisasi atau lecithin makanan (lebih steril) jika memungkinkan. Jangan simpan campuran lama.
Opsi 2 — Vegetarian / fokus ALA (jika tidak mau minyak ikan)
Bahan tambahan untuk 400 ml:
- Minyak biji rami : 5 g (≈1 sdt)
- Gliserol : 0,25–0,5 g (lebih konservatif gunakan 0,25 g)
- Kuning telur pasteurisasi atau lesitin: 1 kuning (~17 g) atau ~1,5 g lesitin
Perhitungan nutrisi & parameter:
- Tambahan energi dari rami 5 g = 45 kkal
- Tambahan energi dari gliserol 0,25 g = 1 kkal
- Total tambahan energi = 46 kkal
- Total energi adukan ≈ 441 kkal / 400 ml → ≈110,3 kkal / 100 ml
- Tambahan ALA dari rami 5 g ≈ ~2.65 g ALA (cukup tinggi)
- Tambahan LA dari flax 5 g ≈ ~0.7 g → rasio ω6:ω3 tambahan ≈ ~0.26 : 1 (dominasi ω3 dari flax)
- Kontribusi osmolalitas dari gliserol 0.25 g ≈ +6.8 mOsm/L (sangat kecil)
Hasil & catatan:
- Opsi ini menaikkan ALA besar sehingga cocok bila Anda ingin ALA tinggi (vegetarian).
- Perlu diingat: konversi ALA → DHA tubuh kecil; jika kebutuhan DHA penting, mengingat sumber DHA (minyak ikan/alga).
- Minyak rami mudah teroksidasi → simpan dingin, campur pas disajikan.
Langkah praktis (cara aman, rumah klinis)
- Gunakan bahan steril/pasteurisasi bila memungkinkan (kuning telur pasteurisasi; minyak ikan yang diformulasikan untuk anak-anak).
- Panaskan larutan Formula‑100 sedikit hangat (bukan panas) agar minyak lebih mudah terdispersi (sekitar 30–35°C); jangan panaskan berlebihan (oksidasi).
- Masukkan kuning telur / lesitin ke cawan kecil, kocok ringan. Tambahkan minyak (canola/flax + minyak ikan), terus kocok hingga terbentuk emulsi minyak+lesitin (mirip membuat mayones skala kecil). Jika ada blender tangan kecil atau pengocok, gunakan untuk membuat tetesan halus.
- Tambahkan campuran emulsified oil ke 400 ml Formula‑100 perlahan
- Tambahkan gliserol terakhir (larut dulu di sedikit air hangat jika perlu), aduk rata.
- Sajikan segera.
- Catat jam pemberian, toleransi (tinja, muntah), dan kenaikan berat secara berkala.
Risiko & peringatan penting (baca sebelum praktik)
- Alergen & mikroba: kuning telur = potensi alergen; jangan gunakan telur mentah non‑pasteurisasi (risiko Salmonella). Lebih aman menggunakan lecithin food‑grade (granular/paste).
- Oksidasi omega‑3: minyak kaya ALA/DHA mudah tengik; gunakan minyak segar, tutup rapat, simpan dingin, beri segera.
- Risiko sabun kalsium: bila formula memiliki kandungan Ca tinggi dan Anda menambahkan lemak berlebihan, ada potensi pembentukan sabun kalsium yang menurunkan penyerapan lemak — pada penambahan risiko minor moderat (5–10 g); risiko naik pada penambahan besar.
- Gliserol: jangan beri >0,5–1 g/adukan tanpa pengawasan (efek osmotik / laksatif).
- Konsultasi wajib: setiap perubahan formula terapi harus dibahas dengan dokter gizi/pediater. Pantau GI & kenaikan BB.
Ringkasan numerik singkat (tabel kecil)
| Opsi | Canola/Flax (g) | Minyak ikan (g) | Gliserol (g) | Kuning telur (y/n) | Tambahan kcal | Total kkal/400ml |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Praktis (canola+fish) | 5 gram kanola | 1 gram | 0,5 gram | Y (1 kuning) | 56 kkal | 451 kkal |
| Vegetarian (rami) | 5 gram rami | 0 gram | 0,25 gram | Y (1 kuning) | 46 kkal | 441 kkal |
2a. Persenyawaan/Campuran antara Gliserol dan Omega-6
Mari kita bedakan dulu dua hal penting berikut:
1. Jika hanya “dicampurkan” (fisik saja, tanpa reaksi kimia)
- Gliserol ( C₃H₈O₃
- Asam lemak omega-6 (contoh asam linoleat, C18H32O2 ) bersifat non-polar, larut dalam minyak, tidak larut dalam udara
- Kalau gliserol + omega-6 saja
- Campuran ini tidak stabil → akan terpisah lagi (minyak mengapung, gliserol bercampur dengan udara).
Jika ditambahkan
2. Jika ada reaksi kimia (esterifikasi)
- Gliserol mempunyai 3 gugus –OH (alkohol).
- Omega-6 (asam lemak) mempunyai gugus –COOH (asam karboksilat).
- Dalam kondisi
- Hasil akhirnya adalah
Contoh:
- Gliserol + 3 molekul asam linoleat (omega-6) →
- Reaksinya menghasilkan
Rumus umum:
gliserol + omega-6 → trigliserida + H₂O)
Kode:C₃H₅(OH)₃ + 3 RCOOH \;→\; C₃H₅(OOC–R)₃ + 3 H2OIni adalah skema sederhana reaksi esterifikasi antara Gliserol + Asam Lemak Omega-6 → menghasilkan
Dalam larutan formula biasa, reaksi ini tidak terjadi secara spontan
3. Kesimpulan praktis
- Kalau hanya “dicampur” di formula →
- Kalau sengaja direaksikan dengan kondisi khusus → akan terbentuk
- Jadi pada larutan minuman/Formula-100, penambahan gliserol + minyak omega-6 tidak akan otomatis menjadi “produk baru”, tetapi hanya campuran yang bisa lebih mudah didispersikan bila ada emulsifier.
2b. Persenyawaan/Campuran antara Gliserol, Omega-6, dan Emulsifier (kuning telur)
Berikut ini dijelaskan jelas, praktis, dan langsung ke poinnya.
Intinya singkat
Penambahan emulsifier seperti lesitin dari kuning telur ke campuran gliserol + minyak sumber Omega-6 akan mengubah campuran fisik menjadi emulsi (tetesan minyak tersuspensi dalam fase air). Itu tidak membuat reaksi kimia baru antara gliserol dan asam lemak; hasilnya tetap campuran fisik yang lebih stabil dan biasanya memperbaiki penampilan, keseragaman, dan penyerapan
Apa yang terjadi secara teknis
- Sebelum pengemulsi:
- Dengan lesitin (kuning telur): lesitin (fosfolipid) menempel pada antarmuka minyak-udara: kepala polar ke udara, ekor nonpolar ke minyak.
→ Terbentuk mikro-/mili-droplet minyak terdispersi (emulsi). - Hasil: tampilan homogen, minyak tidak cepat terpisah, terasa dan tampak lebih “creamier”, serta tetesan kecil mendorong penyerapan lemak karena memperluas luas permukaan untuk kerja lipase/empedu.
Pengaruh pada bioavailabilitas & pencernaan
- Emulsi berbicara kerja empedu & lipase sehingga asam lemak (Omega-6) lebih cepat dicerna & diserap.
- Gliserol tetap berada di fase udara (larut) dan tetap diserap secara terpisah → menambah sedikit energi.
- Emulsi mirip bentuk minyak alami pada makanan sehingga sering mengurangi risiko intoleransi dibandingkan minyak tak teremulsi yang memisah.
Faktor yang menentukan stabilitas emulsi
- Kuantitas emulsifier
- Energi pengemulsi
- pH, kekuatan ion (ion Ca²⁺/Na⁺/K⁺)
- Suhu & penyimpanan
- HLB (keseimbangan hidrofilik-lipofilik) dari pengemulsi; lesitin kerja baik untuk minyak makanan.
Risiko / peringatan penting
- Alergi telur: kuning telur = alergen. Gunakan lesitin food grade atau lesitin dari sumber non-alergenbila perlu.
- Mikrobiologi: gunakan kuning telur pasteurisasiuntuk mengurangi risiko bakteri.
- Oksidasi lemak: walaupun omega-6 kurang rentan dari omega-3, tetap dapat teroksidasi → simpan dingin, kecilkan paparan udara, melindungi antioksidan (vit E) bila diperlukan.
- Sabun kalsium: meskipun emulsi membantu penyerapan, jika ada banyak asam lemak bebas + Ca²⁺, masih ada sedikit risiko pembentukan sabun kalsium—risiko ini lebih besar bila Anda menambahkan asam lemak bebas (FFA) bukan trigliserida.
- Gliserol >0,5–1 g/adukan dapat menaikkan osmolalitas dan menyebabkan efek laksatif → batasi.
Contoh perhitungan & resep praktis untuk 1 adukan = 400 ml (ilustrasi aman & sederhana)
Tujuan: membuat emulsi minyak Omega-6 (mis. kedelai) + gliserol, stabil dengan lesitin kuning telur.
Bahan (saran observasi):
- Formula-100 (400 ml) — dasar
- Minyak (omega-6, kedelai atau canola) : 5 g (~1 sdt) → +45 kkal
- Gliserol : 0,25–0,5 g (pilih 0,5 g jika butuh sedikit energi tambahan) → +~2 kkal
- Kuning telur pasteurisasi : 1 kuning (~17 g) atau lesitin food grade ≈ 1,0–1,5 g (sebagai pengemulsi)
- Jika menggunakan minyak ikan/alga untuk DHA: tambahkan 1 g (opsional)
Perhitungan singkat:
- Tambahan energi ≈ 45 + 2 = 47 kkal (jika gliserol 0,5 g) → total adukan ≈ 442 kkal/400 ml (~110.5 kkal/100 ml).
- Menambahkan LA/ALA sesuai minyak (lihat tabel sebelumnya).
- Ditambahkan mOsm dari gliserol 0,5 g ≈ +13,6 mOsm/L (kecil).
Prosedur campuran praktis:
- Siapkan kuning telur pasteurisasi (atau larutkan 1.5 g lesitin di sedikit air hangat).
- Campur kuning telur + minyak (canola/kedelai ± minyak ikan) di cawan; kocok kuat (hand whip/immersion blender) sampai membentuk emulsi kental (mirip mayones kecil).
- Larutkan gliserol dalam sedikit air hangat (jika perlu) dan masukkan perlahan ke emulsi sambil dikocok.
- Tuang perlahan emulsi ke Formula-100 (yang hangat suam-suam kuku ~30–35°C) sambil diaduk kuat atau di-blend sebentar sehingga terbentuk emulsi homogen.
- Sajikan segera. Simpan sisa (jika ada) di lemari es dan gunakan dalam jangka jam; buang jika lebih dari 24 jam atau ada perubahan bau/warna.
Ringkasan singkat (jawaban fokus)
- Dengan menambahkan emulsifier (kuning telur/lesitin) , campuran gliserol + omega-6 menjadi emulsi stabil , bukan reaksi kimia baru.
- Emulsi → lebih stabil , lebih mudah diserap, lebih nyaman dikonsumsi.
- Terapkan takaran moderat (mis. minyak 5 g/adukan; gliserol ≤0.5 g/adukan; lesitin ≈1–1.5 g atau 1 kuning pasteurisasi), buat & sajikan segera , dan pantau toleransi .
- Hati-hati alergi telur, oksidasi lemak, dan selalu konsultasikan perubahan formula terapi dengan dokter gizi/pediater.
Perbandingan (Ratio) Yang Ideal Pada Gliserol : Omega-3 : Omega-6 : Kuning Telur, Dalam 1 Adukan (400 Ml) Larutan Formula 100
Perbandingan inj ringkas dan langsung ke intinya supaya bisa Anda pakai saat berdiskusi dengan dokter/gizi.
# Rasio ideal (praktis) — gliserol : Omega-3 : Omega-6 : lesitin (kuning telur)
Asumsi: 1 adukan = 400 ml Formula-100; angka yang diberi dalam gram per adukan + rasio sederhana.
Rekomendasi praktis (aman & seimbang):
- Gliserol : 0,5 g
- Omega-3 (setara ALA atau DHA/EPA) : 0,44 g (≈440 mg ALA atau ≈100–200 mg DHA jika menggunakan minyak ikan/alga)
- Omega-6 (LA) : ~2,0 g
- Lesitin / kuning telur (emulsifier) : 1.0–1.5 g (atau 1 kuning telur pasteurisasi ≈ ~17 g bila dipakai utuh — namun untuk perbandingan nutrisi gunakan lesitin ~1.5 g)
Rasio massa (gram) :
gliserol : ω3 : ω6 : lesitin= 0,5 : 0,44 : 2,0 : 1,5
Jika Anda ingin rasio dalam bilangan bulat sederhana (dikali 10):
5 : 4.4 : 20 : 15 → bulatkan → 5 : 4 : 20 : 15 (sebagai panduan kasar).
Atau dibagi dengan 1,5:
0,33
Mengapa angka-angka itu dipilih?
- ω6 ≈ 2.0 g per adukan memberikan ~ ~4% energi dari LA pada total energi ~440 kkal — aman dan masuk akal untuk memperbaiki status asam lemak tanpa berlebihan.
- ω3 ≈ 0.44 g (440 mg) memberi ~ 1% energi (dan memenuhi kebutuhan ALA anak 1–3 th ≈ ~700 mg/hari bila dikombinasi makanan lain; bila ingin DHA aktif, pakai 100–200 mg DHA dari minyak ikan/algal). Rasio ω6:ω3 ≈ ~4.5 : 1 dengan angka di atas (praktis berada di rentang 2–5:1 yang direkomendasikan).
- Gliserol 0,5 g dipilih sebagai batas aman konservasi — memberi sedikit energi (
2 kkal) tapi hanya menambah osmolalitas kecil (+13,6 mOsm/L pada 400 ml). Lebih dari 0.5–1 g/adukan mulai berisiko diare laksatif/osmotik. - Lesitin 1–1.5 g cukup untuk membantu menstabilkan emulsi minyak dalam 400 ml; jika menggunakan 1 kuning telur pasteurisasi gunakan sebagai sumber lesitin tapi hati-hati alergi & mikrobiologi.
Contoh resep implementasi (mengikuti rasio di atas)
- Formula-100: 400 ml
- Tambahkan minyak : pilih kombinasi supaya ω6 ≈2.0 g dan ω3 ≈0.44 g. Contoh praktisnya:
- 5 g minyak canola → tambah LA ≈1.0 g & ALA ≈0.45 g (mendekati target ω3 dan setengah ω6)
- 0.5 g minyak ikan (opsional) → tambah ~60 mg DHA + 90 mg EPA jika ingin DHA langsung (sesuaikan)
- Gliserol : 0,5 g (larutkan dulu sedikit air hangat)
- Lesitin food grade : 1,5 g (atau 1 kuning telur pasteurisasi jika dipilih)
- Campur: buat emulsi minyak+lesitin (kocok), larutkan gliserol, masukkan ke Formula-100 sambil diaduk/blend. Sajikan segera.
(Alternatif vegetarian: 1 g minyak rami menggantikan minyak ikan — tapi ALA→DHA konversi rendah; jika perlu DHA gunakan minyak alga.)
Peringatan klinis & saran pemantauan
- Semua modifikasi Formula-100 harus disetujui & dokter gizi/pediater .
- Gliserol >0.5–1 g/adukan berisiko memicu diare osmotik → hindari.
- Bila pasien memiliki gangguan ginjal/efusi cairan/obat yang mempengaruhi elektrolit atau metabolisme, jangan menambah tanpa klinis.
- Alergi telur : bila ada, gunakan lesitin non-telur (lesitin kedelai, lesitin bunga matahari) bukan kuning telur.
- Perhatikan oksidasi asam lemak tak jenuh (simpan minyak dingin, gunakan segera, sedikit paparan udara). Mengingat antioksidan (vitamin E) jika perlu dan disetujui dokter.
- Pemantauan : katat frekuensi & konsistensi tinja, muntahan, asupan adukan/hari, dan kenaikan berat (g/kg/hari). Hentikan bila muncul diare/memburuk.
Konsentrasi Antar Bahan
Sementara konsentrasi antar bahan tambahan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Video setengah bagian : Cara Membuat Formula 100 (Bukan Formula Ganda 100)
Artikel terkait : Kandungan Nutrisi dan Manfaat dalam Susu Full Cream
Ratio Tetap gliserol : Omega-3 : Omega-6 : lesitin = 0,5 : 0,44 : 2,0 : 1,5.
Jika diketahui 1 adukan (400 ml) formula 100 standar dengan perbandingan gliserol : Omega-3 : Omega-6 : lesitin adalah 0,5 : 0,44 : 2,0 : 1,5. Lalu jika volume dalam satu adukan formula 100 diubah menjadi 606 ml, maka akan tetap (tidak berubah) perbandingan gliserol : Omega-3 : Omega-6 : lesitin tersebut.
Ratio (perbandingan) antar bahan tetap sama, hanya jumlah absolutnya (gram) yang harus diskalakan proporsional mengikuti perubahan volume adukan.
🔹 Prinsip
- Rasio
0.5 : 0.44 : 2.0 : 1.5= tetap konstan, karena itu adalah perbandingan nutrisi yang dianggap ideal. - Kalau volume naik dari 400 ml → 606 ml (bertambah 1,515 kali), maka semua dosis gram juga dikali 606/400 = 1.515.
🔹 Perhitungan praktis (skala 606 ml)
| Komponen | 400 ml (g) | Faktor skala (606/400) | 606 ml (g) |
|---|---|---|---|
| Gliserol | 0.50 g | × 1.515 | 0.76 g |
| Omega-3 | 0.44 g | × 1.515 | 0.67 g |
| Omega-6 | 2.00 g | × 1.515 | 3.03 g |
| Lesitin | 1.50 g | × 1.515 | 2.27 g |
🔹 Kesimpulan
- Rasio tidak berubah → tetap 0.5 : 0.44 : 2.0 : 1.5.
- Jumlah gram bertambah proporsional sesuai volume adukan → pada 606 ml menjadi 0.76 : 0.67 : 3.03 : 2.27.
Rumus Umum (Formula Scaling)
BeriKut dibuatkan rumus umum (formula scaling) supaya bisa dipakai ke semua volume adukan Formula 100.
🔹 Rumus Umum Scaling
Jika diketahui:
- Volume standar (V₀) = 400 ml
- Dosis standar tiap bahan (D₀) dalam gram → Gliserol = 0.50 g, Omega-3 = 0.44 g, Omega-6 = 2.00 g, Lesitin = 1.50 g
- Volume target (V₁) = volume baru (ml)
Maka dosis baru tiap bahan (D₁) dihitung dengan:
D₁ = D₀ \times \frac{V₁}{V₀}
atau lebih sederhana:
D₁ = D₀ \times \frac{V₁}{400}
🔹 Aplikasi pada tiap bahan
- Gliserol:
D_{gliserol} = 0.50 \times \frac{V₁}{400}
- Omega-3:
D_{ω3} = 0.44 \times \frac{V₁}{400}
- Omega-6:
D_{ω6} = 2.00 \times \frac{V₁}{400}
- Lesitin:
D_{lesitin} = 1.50 \times \frac{V₁}{400}
🔹 Contoh perhitungan cepat
Misalnya V₁ = 606 ml:
- Gliserol = 0,50 x (606/400) = 0,76 gr
- Omega-3 = 0,44 x (606/400) = 0,67 gr
- Omega-6 = 2,00 x (606/400) = 3,03 gr
- Lesitin = 1,50 x (606/400) = 2,27 gr
👉 hasil sama seperti tabel sebelumnya.





Comments
Post a Comment